I LOVE TO CREATE

I AM

image
Hello,

I'm Rohmattullah

I have 9 years of experience in digital marketing, during which I have successfully implemented and managed various digital campaigns across different platforms, resulting in increased brand awareness, lead generation, and conversions. My skills include search engine optimization (SEO), search engine marketing (SEM), social media marketing (SMM), content marketing, and analytics.

I am highly proficient in digital marketing and video editing tools such as Google Analytics, Facebook Ads, Canva, Adobe Premiere Pro, CapCut and many more. I have a strong understanding of consumer behavior and the ability to analyze data to make data-driven decisions. Additionally, my excellent communication and collaboration skills have allowed me to effectively work within cross-functional teams and achieve successful campaign outcomes.


Education
Telkom University Bandung, Indonesia)

Technology Telecommunication

Johanna Just Potsdam, Germany

Hotel Management


Experience
Independent Digital Marketing

2015 - now

Digital Marketing Specialist

PT. Jakarta International Expo (2019 - 2020)

Freelance Video Editor

2018 - now


My Skills
Social Media Marketing
Analytics
Content Creation
Web Design
Video Editing
Photography

100%

Always give 100% effort

100+

Happy Customers

100+

Projects Done

100%

Passionated with videography

WHAT CAN I DO

Targeted Social Media Marketing

Create and schedule engaging content for various social media platforms with organic or paid method like Facebook Ads and Tiktok Ads

Data Analysis and Reporting

Utilize analytics tools to track and analyze website and campaign performance. Provide insights and recommendations based on data analysis.

SEO

Perform keyword research and implement on-page and off-page SEO strategies

Web Design

Create good looking website with SEO friendly standards

Video Editing

Transform RAW clips and video footage into high-quality finished videos used to inform, engage, and inspire the audience

Unlimited Support

My Job is my responsibility.

SOME OF WORK
Showing posts with label Indonesiaku. Show all posts
Showing posts with label Indonesiaku. Show all posts

Alhamdulillah, Welcome Back Garuda!



Rohmatullah.com - Alhamdulillah yang ditunggu-tunggu sekian lama akhirnya terjadi, pembekuan PSSI telah dicabut oleh Menpora. Sebagai pecinta sepakbola Indonesia, khususnya timnas tentunya ini adalah sedikit kebahagiaan bagi saya dan juga masyarakat pecinta timnas. Kerinduan akan penampilan timnas sudah tertahan cukup lama, rasanya rindu juga melihat timnas tampil kembali.

Kerinduan itu akhirnya terbayarkan, Insya Allah AFF 2016 mendatang, timnas Indonesia akan ikut ambil bagian. Semoga hasilnya memuaskan, walaupun secara realistis kita tidak bisa terlalu banyak berharap, mengingat persiapan timnas yang minim, dan kompetisi resmi (ISL) yang belum bergulir. Namun setidaknya pencabutan pembekuan ini menjadi angin segar bagi sepakbola Indonesia.

Satu yang aku harapkan, semoga kekisruhan kemarin menjadikan Indonesia berbenah diri untuk menjadi kekuatan baru di sepakbola asia bahkan dunia! Aamiin.


Welcome Back Garuda!

Saatnya kepakkan sayapmu setinggi langit

Timnas.. Harapan Itu Masih Ada


Berjuanglah garudaku..
Kami di belakangmu menanti prestasimu
Harapan itu masih ada.. selama merah putih tetap berkibar
Harapan itu akan selalu ada.. sampai Indonesia menuju pentas dunia
Kami tunggu kehadiranmu timnas..
Negeri ini rindu permainanmu..
Negeri ini haus akan segenggam kebanggaan darimu
Ingatlah.. World Cup isn't dream..


Rohmatullah


Pecinta timnas yang masih bermimpi Indonesia main di Piala Dunia














Manusia-manusia Rigid, Akan Sulit Sendiri

Note : Tulisan dibawah ini merupakan karya pak Rhenald Kasali yang saya sadur dari Kompas.com. Saya sengaja menyadur tulisan ini karena memang sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia saat ini. Haru, inspiratif, dan semoga mengingatkan kita tentang ke-Indonesiaan yang sesungguhnya. Aamiin. Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia raya...


Dalam perjalanan pulang ke Jakarta dari Frankfurt, duduk di sebelah saya salah seorang CEO perusahaan terkemuka Indonesia. Pria berkebangsaan India yang sangat berpendidikan itu bercerita tentang karir dan perusahannya.

Gerakan keduanya (karir dan perusahaannya) begitu lincah. Tidak seperti kita, yang masih rigid, terperangkap pola lama, seakan-akan semua layak dipagari, dibuat sulit. Perusahaan sulit bergerak, impor-ekspor bergerak lambat, dwelling time tidak konsisten. Sama seperti karier sebagian kita, terkunci di tempat. Akhirnya hanya bisa mengeluh.

Pria itu dibesarkan di India, kuliah S-1 sampai selesai di sana, menjadi alumni Fullbright, mengambil S-2 di Amerika Serikat, lalu berkarir di India sampai usia 45 tahun. Setelah itu menjadi CEO di perusahaan multinasional dari Indonesia.

Perusahaannya baru saja mengambil alih sebuah pabrik besar di Frankfurt. Namun karena orang di Frankfurt masih kurang yakin dipimpin eksekutif dari emerging countries, ia membujuk pemasoknya dari Italia agar ikut memiliki saham minoritas di Frankfurt. Dengan kepemilikan itu, pabrik di Frankfurt dikelola eksekutif dari Eropa (Italia).
Solved!

Itu adalah gambaran dari agility. Kelincahan bergerak yang lahir dari fenomena borderles world. Anehnya juga kita mendengar begitu banyak orang yang cemas menghadapi perubahan. Dunia sudah lebih terbuka, mengapa harus terus merasa sulit? Susah di sini, bisa bergeser ke benua lain. Tak ada lagi yang sulit. Ini tentu harus disyukuri.

Serangan Tenaga Kerja

Belum lama ini kita membaca berita tentang kegusaran seseorang yang tulisannya diforward kemana-mana melalui media sosial. Mulai dari berkurang agresifnya angka pertumbuhan, sampai serangan tenaga kerja dari China.

Berita itu di-forward kesana – kemari, sehingga seakan-akan  tak ada lagi masa depan di sini. Yang mengherankan saya, mengapa ia tidak pindah saja bekerja dan berimigrasi ke negara yang dipikirnya hebat itu?

Bekerja atau berkarir di luar negri tentu akan menguntungkan bangsa ini. Pertama, Anda akan memberi kesempatan kerja pada orang lain yang kurang beruntung. Dan kedua, Anda akan mendapatkan wisdom, bahwa hal serupa, komplain yang sama ternyata juga ada di luar negri.
Rekan saya, CEO yang saya temui di pesawat Lufthansa tadi mengeluhkan tentang negerinya. “Orang Indonesia baik-baik, bekerja di Indonesia menyenangkan. Kalau diajari sedikit, bangsa Anda cepat belajar. Pikiran dan tindakannya terstruktur. India tidak! Di India politisi selalu mengganggu pemerintah. Irama kerja buruh tidak terstruktur. Pertumbuhan ekonomi terlalu cepat, membuat persaingan menggila. Rakyatnya makin konsumtif dan materialistis.” Kalimat itu ia ucapkan berkali-kali. 

Susah? Kerja Lebih Profesional!

Di Italia, guide saya, seorang kepala keluarga berusia muda mengantar saya melewati ladang-ladang anggur di Tuscany, menolak menemani makan siang yang disajikan mitra kerja Rumah Perubahan di rumahnya yang indah. “Biarkan saya hanya makan salad di luar. Saya dilarang makan enak saat mengemudi,” ujarnya.

Kepada putra saya ia mengajari.  "Saat bekerja kita harus bekerja, harus profesional, gesit dan disiplin.  Cari kerja itu sulit, mempertahankannya jauh lebih sulit. Kita harus lebih kompetitif dari orang lain kalau tetap ingin bekerja," ujarnya.

Di dalam vineyard-nya yang indah, rekan saya menyajikan aneka makanan Italia yang lezat, lengkap dengan demo masak dan ritual mencicipi wine yang dianggap sakral. Di situ mereka berkeluh kesah tentang perekonomian Eropa yang terganggu Yunani belakangan ini. Dan lagi-lagi mereka menyebutkan kehidupan yang nyaman itu ada di Pulau Dewata, Bali dan Pulau Jawa.   

Ketika saya ceritakan bahwa kami di Indonesia juga sedang susah, dia mendengarkan baik-baik. “Dari dulu kalian terlalu rendah hati, selalu merasa paling miskin dan paling susah. Ketika kalian sudah menjadi bangsa yang kaya, tetap merasa miskin. Tetapi, saya tak pernah melihat bangsa yang lebih kaya, lebih merdeka, lebih bahagia, dari pada Indonesia.” Saya pun terdiam.

Di Singapura, saya mengirim berita tentang komplain terhadap masalah dollar AS dan ancaman kesulitan pada rekan lain yang sudah lima tahun ini berkarir di sana. Ia pun menjawab ringan, “Suruh orang-orang itu kerja di sini saja.”

Tak lama kemudian ia pun meneruskan. “Kalau sudah kerja di sini baru tahu apa artinya kerja keras dan hidup yang fragile.” 

Saya jadi teringat curhat habis-habisan yang ia utarakan saat saya berobat ke negeri itu. “Mana bisa konkow-konkow, main Facebook, nge-tweet di jam kerja? Semua harus disiplin, berani maju, kompetitif, dan siap diberhentikan kalau hasil kerja buruk. Di negeri kita (Indonesia), saya masih bisa bersantai-santai, karyawan banyak, hasil kerja tidak penting, yang penting bos tidak marah saja,” ujarnya.

Saat itu ia tengah menghadapi masa probation atau percobaan.Sungguh khawatir kursinya akan direbut pekerja lain dari India, Turki,  dan Prancis yang bahasa Inggrisnya lebih bagus, dan ritme kerjanya lebih cepat. Ternyata bekerja di negeri yang perekonomiannya bagus itu juga tidak mudah. Padahal di sana mereka lihat kerja yang enak itu ya di sini.

Bangsa Merdeka Jangan Cengeng

Saya makin terkekeh membaca berita yang disebarluaskan parahaters melalui grup-grup WA, bahwa pemerintah sekarang tidak perform, membiarkan sepuluh ribuan buruh dari China merangsek masuk ke negri ini. Sungguh, saya tak gusar dengan serangan tenaga kerja itu. Yang membuat saya gusar adalah kalau hal serupa dilakukan bangsa-bangsa lain terhadap tenaga kerja asal Indonesia di luar negri.

Penyebar berita kebencian itu mestinya lebih rajin jalan-jalan ke luar negri. Bukankah dunia sudah borderless, tiket pesawat juga sudah jauh lebih murah. Cara menginap juga sangat mudah dan murah. Kalau saja ia rajin, maka ia akan menemukan fakta-fakta ini: Sebanyak 300.000 orang tenaga kerja Indonesia bekerja di Taiwan. 250.000 lainnya di Hongkong. Lebih dari 100.000 orang ada di Malaysia. Selain itu, perusahaan-perusahaan kita sudah mulai mengepung Nigeria, Myanmar, dan Brazil. Bahkan juga canada dan Amerika.

Jadi bagaimana ya? Kok baru dikepung 10.000 saja kita sudah rasis? Ini tentu mengerikan. 

Lalu dari grup WA para alumnus  sekolah, belakangan ini saja juga mendapat kiriman teman-teman yang kini berkarir di manca negara. Delapan keluarga teman kuliah saya ada di Kanada, beberapa di Jerman dan Eropa, puluhan di Amerika Serikat, dan yang terbanyak tentu saja di Jakarta. Semakin banyak orang kita yang berkarier bebas di mancanegara. Karir mereka tidak rigid.

Jadi, janganlah kita cengeng. Beraninya hanya curhat dan komplain, tapi tak berbuat apa-apa. Bahkan beraninya hanya menyuarakan kebencian. Atau paling-paling cuma mengajak berantem dan membuat akun palsu bertebaran. Kita juga jangan mudah berprasangka. Syukuri yang sudah didapat. Kecemasan hanya mungkin diatasi dengan berkomitmen untuk bekerja lebih jujur, lebih keras, lebih respek, lebih profesional, dan memberi lebih. 

Kalau Anda merasa Indonesia sudah “berbahaya” ya belain dong. Kalau Anda merasa tak senang dengan orang lain, ya sudah, pindah saja ke luar negri. Mudah kok. Di sana Anda akan mendapatkan wisdom, atas kata-kata dan perbuatan sendiri. Di sana kita baru bisa merasakan kayanya Indonesia. Di sana kita baru tahu bahwa tak ada hidup yang mudah.


Prof. Rhenald Kasali adalah Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Pria bergelar PhD dari University of Illinois ini juga banyak memiliki pengalaman dalam memimpin transformasi, di antaranya menjadi pansel KPK sebanyak 4 kali, dan menjadi praktisi manajemen. Ia mendirikan Rumah Perubahan, yang menjadi role model dari social business di kalangan para akademisi dan penggiat sosial yang didasari entrepreneurship dan kemandirian. Terakhir, buku yang ditulis berjudul Self Driving: Merubah Mental Passengers Menjadi Drivers

(http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/08/03/054500426/Manusia.manusia.Rigid.Akan.Sulit.Sendiri?page=1)

Bismillah, Go Entrepreneur!



Rohmatullah.com - Sudah lama aku engga posting di blog ini :) kali ini aku mau membagikan info yang cukup memotivasi dan memang sangat penting bagi bangsa Indonesia, mengapa? Karena saat ini Indonesia masih kekurangan pengusaha atau Entrepreneur dengan persentase yang tidak sampai 2%, sebagian besar masyarakat Indonesia masih memiliki pola pikir (mindset) bahwa kerja yang keren adalah di kantor atau perusahaan dan mendapat gaji setiap bulannya. Namun bukan berarti aku merendahkan pekerjaan sebagai karyawan, menurutku semua pekerjaan itu bagus selama dalam lingkup pekerjaan yang halal. Hanya saja disini aku cuma ingin membagikan sesuatu yang semoga dapat mengubah mindset sebagian besar orang Indonesia selama ini. Contoh saja Amerika yang 11% dari total penduduknya adalah pengusaha, lalu China dengan 12%, dan Singapore 8,4%.

Dari statistik tersebut bisa dilihat, bahwa banyaknya jumlah pengusaha di suatu negara berbanding lurus dengan kemajuan negara karena dengan banyaknya jumlah pengusaha, maka jumlah lapangan pekerjaan pun banyak, dampaknya ekonomi negara pun ikut terangkat. Dengan menjadi pengusaha kita bukan cuma mensejahterakan diri sendiri, tetapi juga bisa bermanfaat bagi orang banyak dan bangsa Indonesia. Semoga fakta-fakta berikut ini dapat memotivasi kita semua, sekaligus mengubah pola pikir yang selama ini menjajah mental sebagian besar orang Indonesia.

Semakin banyak pengusaha, semakin maju pula Indonesia karena lapangan kerja semakin banyak, produktivitas meningkat, otomatis ekonomi negara ikut terangkat, semoga kita bisa menjadi bagian dari perubahan Indonesia yang lebih baik, Aamiin.. (Rohmatullah.com)

Info dibawah ini aku dapatkan dari facebook.com/wahyulih.hikmat

Bob Sadino :

● Bangun tidur anda minum apa? 
Apa Aqua? (74% sahamnya milik Danone perusahaan Perancis) atau Teh Sariwangi (100% saham milik Unilever Inggris).

● Minum susu SGM (milik Sari Husada yang 82% sahamnya dikuasai Numico Belanda).

● Lalu mandi pakai sabun Lux dan Pepsodent (Unilever, Inggris).

● Sarapan? 
Berasnya beras impor dari Thailand (BULOG-pun impor), gulanya juga impor (Gulaku, Malaysia).

● Mau santai habis makan, rokoknya Sampoerna (97% saham milik Philip Morris Amerika).

● Keluar rumah naik motor/mobil buatan Jepang, Cina,India, Eropa tinggal pilih.

● Sampai kantor nyalain AC buatan Jepang, Korea, Cina.

● Pakai komputer, hp (operator Indosat, XL, Telkomsel semuanya milik asing; Qatar, Singapura, Malaysia).

● Mau belanja? 
Ke Carrefour, punya Perancis. Kalo gitu ke Alfamart (75% sahamnya Carrefour). Bagaimana dengan Giant? Ini punya Dairy Farm International,
Malaysia yang juga Hero.

● Malam-malam iseng ke Circle K dari Amerika. 

● Ambil uang di ATM BCA, Danamon, BII, Bank Niaga, ah semuanya sudah milik asing walaupun namanya masih Indonesia.

● Bangun rumah pake semen Tiga Roda Indocement sekarang milik Heidelberg (Jerman) (61,70%). Semen Gresik milik Cemex Meksiko, Semen Cibinong punyanya Holcim (Swiss).

Masih banyak lagi kalo mau diterusin. By the way, BB atau HP anda pun buatan 'luar' dan masih banyak lagi belum dari makanan

CUMA KORUPTOR aja yang Asli Produk Indonesia..!!! *Upsss sorry*

Tanpa mereka mungkin kita susah maju karena pekerjanya juga banyak warga Indonesia tapi yang harus di banyakin itu yah para pengusaha asli Indonesia biar seimbang

Semoga generasi penerus kita banyak yang jadi pengusaha dan bukan bekerja dengan orang lain.

Harapanku Untuk Indonesia Baru

Harapanku Untuk Indonesia Baru

Rohmatullah.com - Sejarah baru bagi Indonesia telah dimulai, lahir semangat baru dengan jiwa-jiwa baru dalam tubuh pemerintahan negeri ini. Tanah surga telah lama menantikan yang namanya kemajuan dari sebuah negara bernama INDONESIA. Satu nama yang begitu melekat dalam sanubari rakyatnya, atas nama bangsa, apapun akan mereka lakukan, semoga itulah prinsip yang menjiwai pemimpin baru Indonesia dalam periode 5 tahun ke depan. Sebagai manusia Indonesia, aku harus berbuat untuk Indonesia dan selain itu ada banyak hal yang kuharapkan dari pemerintah untuk kemajuan negeri ini, harapan itu adalah :

#1 Pemerintah harus mampu merevolusi mental rakyat Indonesia menjadi jujur, disiplin, dan pekerja keras.

#2 Memberi peringatan keras terhadap wakil rakyat yang bolos kerja, jika sudah berkali-kali, langsung pecat saja.

3# Pemerintah harus mampu mengakomodir tayangan televisi yang tidak mendidik, dan bila perlu pemerintah membuat sendiri acara televisi yang memotivasi anak muda untuk memajukan Indonesia, misalnya : "Aku Malu Tidak Jujur". Karena sesuai kenyataan, mental anak muda sekarang sedikit banyak terpengaruh acara di televisi.

#4 Pemerintah harus menghapus sistem kredit mobil dan motor untuk mengurangi kemacetan, tak lupa transportasi umum pun harus diperbaiki lagi kualitasnya.

#5 Buat stadion atau fasilitas olahraga berkualitas dan rajin-rajinlah mengadakan kompetisi olahraga supaya olahraga Indonesia berprestasi di tingkat internasional. Tak lupa, lakukan pembinaan usia dini secara serius di seluruh cabang olahraga untuk menciptakan bibit olahragawan handal.

#6 Menerapkan sistem pemerintahan berbasis online, misalnya :
-Promosi wisata Indonesia ke luar negeri secara online, karena lebih hemat anggaran daripada harus jauh-jauh ke luar negeri.
-Membuat halaman FB atau Twitter yang diperuntukkan untuk mengetahui keluhan atau saran dari rakyat.
-Menjadikan web-web besar seperti kaskus.co.id, detik.com, kompas.com sebagai mitra pemerintah baru untuk memberikan edukasi secara online dan pembelajaran pembentukan mental.

#7 Buat aturan tegas terkait sampah. Misalnya :
-Memberikan denda terhadap masyarakat yang membuang sampah semabarangan, caranya buatlah polisi khusus untuk kebersihan lingkungan.
-Mewajibkan kerja bakti bagi seluruh daerah di Indonesia setiap minggunya.

#8 Tingkatkan kecepatan internet Indonesia.

#9 Buat sistem pendidikan yang berkualitas yang mampu menjadikan mental generasi muda Indonesia sehat dan cerdas, dan juga harus mampu menghapus paradigma pendidikan Indonesia yang selama ini berorientasi pada 'Nilai' dan 'Hafalan'.

#10 Buatlah event-event internasional yang diselenggarakan di Indonesia, agar nama Indonesia semakin dikenal dunia.

#11 Sebagi negara agraris yang sangat luas sudah seharusnya pemerintah mampu menjadikan Indonesia sebagai lumbung padi Asia, bukan justru malah mengimpor beras dari luar.

#12 Mendukung dan memperhatikan produk buatan lokal secara maksimal agar tidak kalah saing dengan produk asing.

#13 Sering-seringlah membuat festival budaya Indonesia di setiap daerah agara budaya lokal terlestarikan.

#14 Mengirim sebanyak mungkin pemuda Indonesia untuk belajar di negara maju yang kemudian hari ilmunya wajib diterapkan di Indonesia dengan bekerjasama dengan pemerintah.


Semoga terwujudkan, Aamiin..

Ketika Mereka Mempelajari Kita

Rohmatullah.com - Berbicara soal budaya, aku kira budaya merupakan faktor teratas untuk menentukan bagaimana identitas suatu bangsa, karena dengan budaya segala hal yang terdapat dalam sebuah bangsa dapat terbentuk secara nyata. Melihat bagaimana budaya negara sendiri adalah hal yang biasa, namun adalah hal yang tidak biasa bagi mereka yang belum pernah sama sekali melihatnya, alias orang asing (baca: bule). Dan aku jadi teringat sebuah kata kata yang berkalimatkan "Rumput tetangga nampak selalu lebih hijau".

Dan tak bisa dipungkiri lagi, hal itu memang benar adanya. Namun aku yakin, rumput tetangga yang nampak lebih hijau tersebut tidak selalu dikarenakan posisi kita sebagai orang lain, tetapi hal yang dianggapnya hijau tersebut memang benar-benar hijau. Dan itulah kelemahan kita sebagai bangsa Indonesia, termasuk aku sendiri, yang begitu mendewakan budaya luar sedangkan budaya negeri sendiri ditinggalkan. Semoga gambar dibawah ini menyadarkan kita.

Para bule begitu menikmati memainkan angklung di Saung Angklung Udjo, Bandung

Ketika sekumpulan pemuda Jepang mempelajari alat musik Indonesia.

Sanggar gamelan di Jepang

Mahasiswa Korea sedang membuat janur

Ketika kita mengelu-elukan dance ala KPOP, mereka pemuda Korea belajar tari saman.

Memang... Antar dua negara perlu melakukan pertukaran budaya, namun yang aku lihat budaya Korea dan negara lainnya jauh lebih booming ketimbang budaya Indonesia di Korea, jadi tidak adil. Parahnya lagi, budaya Korea lebih digandrungi ketimbang budaya negeri sendiri. Seharusnya memang informasi seperti ini tidak perlu aku bagikan karena terkesan seperti bangga berlebihan dan menggurui, tapi melihat kenyataan yang dimana sebagian besar nasionalisme pemuda Indonesia lemah dan hanya kuat ketika timnas menang, aku mencoba membagikan gambar-gambar yang semoga bisa menyadarkan dan 'menyentil' diri kita ternyata mereka yang orang asing lebih Indonesia ketimbang kita.

Untuk Wakil Rakyat, dari Cak Lontong

Korupsi

Pengemis itu orang yang rendah hati. Walaupun uangnya banyak, tapi pakaiannya tetap sederhana. Daripada orang yang pakaiannya bagus tapi kerjaannya ambil uang rakyat, lebih baik minta daripada mengambil. --Cak Lontong

Mengapa Musik Indonesia Tidak Lebih Maju dari Korea?

Rohmatullah.com - Sebagai orang Indonesia sudah seharusnya kita semua mendukung musik Indonesia untuk kemajuan industri musik kita. Ketika saya melihat begitu booming nya musik Korea dimana-mana, termasuk di Indonesia, saya bergegas untuk mencari tahu lebih dalam bagaimana bisa musik Korea berkembang begitu cepat, padahal menurut saya musikalitas band, boyband, atau penyanyi Korea biasa saja. Saya melihat ini bukan karena saya orang Indonesia dan menilai hal ini dari kacamata yang netral. Entah mengapa sampai sekarang saya masih heran kenapa musik Indonesia tidak bisa mendunia, jika pun ada, saya rasa masih belum maksimal seperti halnya para musisi Korea.

Musik Indonesia
Mengapa Musik Indonesia Tidak Lebih Maju dari Korea?

Namun pastinya perjuangan musisi Indonesia yang telah berhasil menjual karyanya hingga ke luar negeri patut diapresiasi. Indonesia adalah negara seni, negara yang penuh dan kaya akan budaya, musik, dan keragaman lainnya, tapi kenapa musik Indonesia belum bisa mendunia? Menurut saya, beberapa hal yang membuat musik Indonesia dengan kualitasnya yang sebenarnya baik ini belum bisa mendunia karena :

1. Musisi Indonesia terlalu fokus dengan pasar DALAM NEGERI, merasa rendah dan menganggap musik Korea, Amerika, dan sejenisnya lebih baik. Kalaupun ada yang berani ke luar negeri, tidak jauh dari pasar Malaysia, Singapore, Brunei, atau Hongkong yang notabene banyak TKI yang bermukim di negara-negara tersebut.

2. Rakyat banyak lebih suka musik luar negeri karena sebagian besar musisi Indonesia selalu menciptakan lagu TENTANG CINTA. Karena faktor inilah yang mungkin membuat masyarakat selain merasa jenuh, juga agak geli mendengar lirik lagu tentang cinta-cintaan.

3. Promosi yang sebatas DALAM NEGERI, lagi-lagi harus saya katakan dalam negeri kembali. Memang tidak mudah untuk menggaet pasar luar negeri, apalagi Amerika. Namun jika ada pihak belantika musik Indonesia yang kreatif, pasti musik Indonesia bakal mendunia, seperti apa yang telah berhasil dilakukan oleh berbagai pihak di dunia musik Korea.

4. Karena negara Indonesia kurang begitu dikenal, mungkin karena bukan negara maju, sehingga banyak orang di negara lain tak mau tahu tentang musik Indonesia.


Penyebab KPOP Lebih Maju Dibanding Musik Indonesia versi Rohmatullah.com :

1. Pemerintah atau pihak musik Korea berpromosi secara besar-besaran melalui media online, khususnya Youtube, contoh saja 'PSY - Gangnam Style' yang hingga kini sudah menembus milyaran view di Youtube.

2. Musikalitas Korea biasa saja, lagu Indonesia lebih enak didengar dengan alunan nada yang indah. Tapi, kebanyakan lagu Korea berjudul bahasa inggris untuk menggaet pasar luar negeri.

3. Video klip penyanyi atau boyband Korea sangat mewah dan kreatif, didukung dengan kualitas gambar HD.

4. Ketampanan dan kecantikan penyanyi atau boyband Korea menjadi daya tarik luar biasa.

5. Fashion penyanyi Korea sangat eksentrik dan berbeda dibanding penyanyi dari Amerika dan Eropa.

6. Dance yang energik.

Apa sih yang kurang dengan lagu Laskar Pelangi, Sempurna, Jangan Menyerah, Semua Tentang Kita, Oemar Bakri, dan lagu Indonesia lainnya? Coba bandingkan dengan lagu Mr. Simple atau lagu Korea yang lain, lebih enak mana? Sangat mubazir......... Karya seni Indonesia yang begitu indah tidak bisa dikenal dunia. Seni tidak akan bisa menipu hati siapapun, tetapi fisik bisa.

Start Work With Me

Contact Us
Rohmattullah
+62857-1598-3737 (WhatsApp)
Bogor, Indonesia

Tetap Terhubung